Rakyat45.com, Yogyakarta – Makna Pesparawi panggung atau mezbah kembali menjadi sorotan menjelang pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi). Juri nasional, Dr. Karel Martinus Siahaya, menilai ajang ini berpotensi bergeser dari perayaan iman menjadi sekadar kompetisi artistik.
“Apakah kita (Umat Kristen) sedang memuliakan Tuhan, atau sekedar memenangkan penilaian..?” ujar Dr. Karel Martinus Siahaya, SH., M.Th., M.H., M.Sn, Dosen Liturgika STAK Teruna Bhakti Yogyakarta, Senin (4/5/2026).
Pesparawi merupakan agenda tiga tahunan yang digelar bergilir di seluruh provinsi di Indonesia. Untuk pelaksanaan berikutnya, ajang ini direncanakan berlangsung di Manokwari, Papua. Menjelang kegiatan tersebut, berbagai kontingen intensif berlatih untuk menampilkan performa terbaik.
Namun, Karel mengingatkan bahwa di balik keindahan harmoni suara, terdapat persoalan mendasar terkait esensi pujian dalam format lomba.
“Ketika pujian dinyanyikan dalam format lomba apakah ia tetap menjadi doa, atau berubah menjadi pertunjukan,” tuturnya.
Menurutnya, pergeseran ini tidak hanya berdampak bagi gereja, tetapi juga mencerminkan budaya kompetisi yang berkembang di masyarakat. Pesparawi, kata dia, seharusnya menjadi ruang perjumpaan iman, bukan sekadar ajang evaluasi teknis.
Ia menegaskan, Pesparawi perlu dikembalikan pada esensinya sebagai mezbah. Fokus utama bukan hanya keselarasan suara, melainkan kesatuan hati dalam memuji Tuhan.
“Yang dicari bukan hanya suara yang selaras tetapi hati yang sejalan. Persoalan utamanya bukan teknis, melainkan eksistensial. Teknik penting tapi itu hanya sarana, sebab tanpa kedalaman rohani, keindahan musikal menjadi kosong,” ujarnya.
Karel juga menekankan bahwa proses latihan seharusnya tidak hanya membentuk kualitas vokal, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas peserta.
Dalam konteks penilaian, ia menilai peran juri sangat menentukan arah Pesparawi. Penilaian yang hanya berfokus pada aspek teknis berpotensi mendorong peserta mengejar performa semata.
“Jika yang diutamakan hanya presisi teknis, maka peserta hanya akan mengejar performa, namun jika juri memberi ruang bagi penghayatan, ketulusan dan kedalaman Pesparawi dapat melampaui logika lomba,” tuturnya.
Ia menambahkan, dimensi spiritual memang tidak dapat diukur secara teknis, tetapi dapat dirasakan melalui kepekaan dalam membedakan antara nyanyian yang sekadar terdengar dan yang benar-benar bermakna.
Meski demikian, ia tidak menolak konsep kompetisi dalam Pesparawi. Menurutnya, kompetisi tetap diperlukan selama ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan utama.
Saat Pesparawi digelar di Manokwari nanti, ribuan peserta akan tampil membawa harmoni suara. Namun, Karel mengingatkan bahwa yang terpenting bukan sekadar keindahan musikal, melainkan nilai spiritual yang dihidupi.
“Tanpa itu, Pesparawi tetap memukau, tetapi kehilangan doanya,” pungkasnya.***






